Menggapai Harapan ep.41-50

Episode 41

Yue-rui, salah satu anggota kelompok A Lan akhir-akhir ini sedang mengalami masalah dengan ibu mertuanya. Dia dan suaminya bekerja di kota, tapi ibunya tidak mau ikut tinggal bersama mereka dengan alasan tidak ada yang merawat kebun jeruk yang sudah dirawatnya turun temurun. Melihat anggota kelompoknya begitu serba salah akhirnya A Lan berjanji akan membantu mengurus kebun jeruk itu. Dengan semangat A Lan minta semua anggota kelompoknya untuk turun tangan. Karena kebun jeruk tersebut luas dan banyak tanjakan, A Lan dan anggota kelompoknya hampir mati kelelahan. Walau  begitu, A Lan tidaklah mengeluh, dia bahkan ingin terus mengerjakannya. Melihat A Lan begitu tulus membantu, Yue-rui dan suaminya memutuskan untuk menyumbangkan semua hasil panennya pada yayasan Tzu Chi. Tentu saja A Lan senang mendengar hal ini. Tapi Yue-rui memintanya untuk merahasiakan hal ini pada ibu mertuanya. Karena selama ini ibu mertuanya sangat hemat dan lagi pula kebun jeruk itu adalah peninggalan leluhur mereka, jika ibu mertuanya tahu hasil panen akan di sumbangkan pasti beliau takkan setuju. Oleh sebab itu, Yue-rui minta agar untuk sementara A Lan jangan memboccorkan rahasia ini dulu. A Lan sendiri merasa tidak enak karena harus berbohong pada orang tua. Tapi demi membantu, A Lan terpaksa menuruti kata-kata Yue-rui.

Episode 42

Setelah bekerja keras akhirnya A Lan bisa panen buah jeruk. Dengan senang A Lan membungkus dan memperkenalkan buah jeruk yang dirawat mereka. Semua ini karena A Lan ingin membantu mengumpulkan uang untuk membantu pekerjaan Tzu Chi. Setelah panen kedua, ibu mertua Yue-rui tahu hal yang sebenarnya. Oleh sebab itu dia mengajak A lan untuk membicarakan hal ini. Karena sudah lama berbohong, A Lan jadi takut menghadapi ibu mertua Yue-rui. Tapi melihat tindakan A Lan dan anggota kelompoknya selama ini, ibu mertua Yue-rui bukan hanya tidak marah, tapi beliau juga rela menyumbangkan hasil panennya untuk Tzu Chi. Setelah masalah kebun jeruk selesai, A Lan mendapat kabar bahwa istri Wei-yi sudah akan melahirkan. Oleh sebab itu Wei-yi minta agar A Land an Guang-yuan menyempatkan diri menjenguk mereka di Amerika. Awalnya A Lan merasa bingung harus melepas pekerjaannya di Taiwan, tapi karena ingin memeluk cucu emas mereka, akhirnya dia berangkat juga. Tapi setiba di sana, hati A Lan tidak pernah tenang, hampir setiap saat dia menelepon Nyonya Xie untuk menanyakan kabar di Taiwan. Sejak awal Guang-yuan sudah menebak kalau A Lan pasti sedang mencemaskan pekerjaan Tzu Chi-nya. Tapi karena tidak enak hati, A Lan tetap menyembunyikan kecemasannya.

Episode 43

Karena tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya di Taiwan, akhirnya A Lan minta pulang. Hal ini tentu saja membuat Guang-yuan tidak senang sekaligus kecewa. Setelah menyelesaikan tugasnya di Tzu Chi, supaya meredakan amarah Guang-yuan A Lan berjanji pada Guang-yuan akan menemaninya di Xinying untuk beberapa hari. Baru saja Guang-yuan merasa senang karena bisa makan bersama istri dan Xiao-ling yang mengajak serta suaminya, tiba-tiba A Lan mendengar berita bahwa ada sebuah pabrik yang meledak di Taizhong. Tanpa berpikir panjang, A Lan bergegas lari ke depan TV. Setelah mendengar kabar itu dengan jelas, A Lan minta pada menantunya agar segera mengantarnya ke RS tempat para korban dirawat. Guang-yuan kebakaran jenggot mendengar hal ini, tidak gampang dia bisa berkumpul dengan keluarganya malah dirusak oleh A Lan. Karena tidak bisa menolak, menantunya pun segera mengantarnya ke rumah sakit tersebut. Guang-yuan dan Xiao-ling hanya bisa pasrah melihat kepergian mereka.

Episode 44

Begitu mendengar guru ingin menjalankan misi pelestarian lingkungan, A Lan lah orang yang paling senang. Dengan giat dia ikut mengerjakan pelestarian lingkungan, dia juga mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk ikut membantu melestarikan lingkungan dengan misi pelestarian lingkungan ini. Misi guru semakin hari semakin meluas bahkan banyak yang mendengarkan dharma di Griya.  Ada penambahan anggota seharusnya hal yang menggembirakan, tapi A Lan dan para komite lainnya kewalahan menghadapi anggota baru yang bernama Shu-lian. Saat Master sedang membahas masalah dengan rekannya, Shu-lian mengajak teman-temannya menyelonong masuk dan langsung bilang pada Master bahwa dia ingin di Vishudi. Hal ini menjadi bahan pembicaraan, banyak yang menganggap kelakuan Shu-lian tidak sopan. Tapi seperti biasanya, A Lan tetap saja membelanya. Bukan hanya itu saja, dengan seenaknya Shu-lian juga mengenakan seragam yang seharusnya di pakai oleh seorang komite. Saat dinasihati, Shu-lian sama sekali tidak mau mendengar, dia malah marah-marah. Semua anggota menjadi kewalahan menghadapi Shu-lian dan teman-temannya.

Episode 45

Suatu hari A Lan mendapat kabar bahwa Master ingin memberi pertolongan pada korban bencana banjir di Tiongkok. Agar lebih cepat mendapatkan uang derma, A Lan dan para ketua kelompok lainnya memutuskan untuk mencari sumbangan di jalanan. Karena belum ada pengalaman mencari sumbangan dengan cara ini, maka para anggota A Lan hanya bisa berdiri ditapi jalan atau pun di depan toko orang lain. Karena merasa malu, mereka juga tidak mau berteriak dengan suara yang kencang. Saat mencari sumbangan, mereka juga sempat dicurigai dan dimarahi oleh orang yang berlalu lalang. Hal ini disebabkan oleh perpecahan yang terjadi waktu dulu. Mereka menganggap tidak perlu mengasihani orang Tiongkok. Oleh sebab itu, uang derma yang mereka dapat sedikit sekali. Melihat hal ini, A Lan dan para ketua kelompok kembali berunding mencari jalan keluar. Akhirnya mereka dapat satu jalan keluar, yaitu membuka bazar amal.

Episode 46

Setelah dirundingkan akhirnya A Lan mengambil sebanyak 25 stand bazaar yang dibagi menjadi 25 kelompok. Karena ingin menunjukkan kemampuannya, Shu-lian sendiri ingin memborong 10 stand. Tapi A Lan hanya memberinya 5 stand karena merasa yang lain juga ingin membantu misi ini. Saat menjalankan bazaar amal ini, ada salah seorang anggota A Lan yang merasa dirinya tidak mampu membantu sama sekali, bahkan memotong sayur pun tidak bisa. Saat diberi kupon sebanyak 60 ribu dolar untuk dijual, Yan-qin langsung merasa tegang sampai penyakit lambungnya kambuh. Karena tidak enak buka mulut untuk menawarkan kupon pada orang lain.Yan-qin dan suaminya rela mengeluarkan isi kantong sendiri untuk membeli kupon sebanyak 60 ribu itu, kemudian mereka akan bagikan pada anggota derma dan kerabat dekat mereka. Untuk menghemat 60 ribu ini, Yan-qin yang sedang tidak sehat terpaksa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Saat menjenguk mereka, melihat situasi ini A Lan banyak memberi nasihat juga banyak menceritakan pengalaman saat pertama kali dia bergabung di Tzu Chi.  Karena cerita ini, Yan-qin dan suaminya jadi percaya diri kembali. Akhirnya kupon 60 ribu tersebut bukan hanya terjual habis, tapi Yan-qin juga ingin mengambil kupon baru untuk dijual.

Episode 47

Karena bazaar amal kelompok A Lan berjalan dengan lancar, maka Shu-lian mebuat keputusan sendiri untuk buka stand bazaar baru. Rencananya ini hampir ditolak semua angora kelompok ketiga. Mereka merasa Shu-lian terlalu mengada-ada. Disaat semua masih lelah, dia malah menganjurkan membuka bazaar amal baru. Mengenai hal ini, A Lan merasa bingung harus mengambil keputusan apa. Membuka bazaar untuk menolong korba bencana tentu saja membuatnya senang, tapi dibalik semua ini dia juga sulit mempertanggung jawabkan dan mejelaskan hal ini pada anggota kelompok yang menolak rencana ini. Sikap Shu-lian selalu berterus terang, apa adanya dan mandiri. Begitu tahu rencananya tidak mendapat sambutan baik dari teman-temannya, dia memutuskan untuk mengerjakannya sendiri. Disaat genting seperti ini, sebagai ketua kelompok, A Lam berusaha untuk meredakan masalah. Sambil menangis kecewa, A Lan memberi nasihat pada para anggota kelompoknya. Selama ini, anggota kelompok ketiga semuanya sangat hormat dan sayang pada A Lan. Melihat ketua kelompoknya sedih, para anggotanya juga merasa sedih juga. Akhirnya beberapa dari anggota tersebut untuk mengambil andil dalam bazaar yang direncanakan Shu-lian tersebut.
Episode 48

Dengan semangat pantang mundurnya A Lan terus membujuk para anggota yang pernah ebrseteru dengan Ahu-lian untuk membantu bazaar amalnya. Melihat ketulusan A Lan, maka beberapa anggota yang tadinya tidak begitu setuju juga ikut ambil bagian. Tidak disangka bazaar atas ide Shu-lian berjalan dengan lancar, walau pada saat itu angin sedikit kencang, tapi hampir semua yang dijual di bazaar tersebut habis. Karena belakangan ini sedang sibuk masalah korban bencana Tiongkok, salah seorang anggota kelompok A Lan, Xue zhu, mendapat peringatan dari kakaknya, Lin Cai-xiu yang selama ini melarangnya mengerjakan Tzu Chi. Bukan hanya ini saja, bahkan menatunya, Gui-hong yang selama ini ingin sekali bergabung dengan Tzu Chi juga dilarangnya. Tapi selalu ada kesempatan bagi yang ingin berjalan dikebenaran. Karena kekurangan mobil, maka Xue-zhu minta bantuan Gui-hong untuk mengantar anggota kelompok ketiga ke kunjungan. Melihat A Lan yang begitu sabar dan berani menghadapi para keluarga tidak mampu tersebut, hati Gui-lan semakin terpanggil untuk bergabung. Tanpa peduli dengan mertuanya, akhirnya Gui-hong bergabung di Tzu Chi dan menjadi komite.

Episode 49

Setelah tahu Gui-hong jarang buka toko dan menghabiskan waktunya mengerjakan Tzu Chi, Lin Cai-xiu marah besar dengan menantunya ini. Apalagi setelah tahu Gui-hong ingin mengambil tarikannya dengan membayar bunga yang cukup besar, Liu Cai-xiu bahkan menyinggung Tzu Chi merusak Gui-hong. Karena tidak terima ibu mertuanya menjelek-jelekkan nama Tzu Chi, Gui-hong pun marah dan bertengkar dengannya. Tadinya setelah mendengar nasihat A Lan, Gui-hong ingin bersabar dan ingin baikan kembali dengan ibu mertuanya. Tapi Gui-hong tetap saja tidak dihirau ibu mertuanya yang keras kepala itu. Karena tidak ada cara lain, Gui-hong hanya bisa minta tolong pada A Lan. Melihat situasi yang semakin runyam, akhirnya A Lan memenuhi permintaan Gui-hong dan memberanikan diri bertemu dengan Lin Cai-xiu. Tapi setelah menguping pembicaraan A Lan dan Lin Cai-xiu, Shu-lian dan Xue-zhu merasa tidak ada harapan sama sekali. Karena mereka berdua hanya bercerita tentang susahnya kehidupan yang pernah mereka jalani, sama sekali tidak mengungkit Tzu Chi. Gui-hong sendiri juga merasa dia sudah minta tolong pada orang yang salah. Tapi A Lan selalu ada akal menghadapi orang-orang seperti ini. Kenyataannya, beberapa waktu kemudian Lin Cai-xiu bersedia ikut membantu di kelompok A Lan.

Episode 50

Setelah diajak ikut kunjugan ke penjara dan mendengar cerita A Lan, akhirnya pintu hati Lin Cai-xiu terbuka. Dia sadar bahwa mengerjakan Tzu Chi tidak akan membuat kehidupan keluarga adik perempuan dan menantunya berantakan, melainkan akan semakin rukun karena welas asih. Dengan tenang Lin Cai-xiu membiarkan mereka mengerjakan Tzu Chi. Karena yayasan Tzu Chi sudah mulai berkembang dan banyak relawan muda yang bergabung, maka semakin banyak pula prosedur yang harus dijalani. Ingin mengajukan kasus saja A Lan disuruh mengisi formulir yang sudah disiapkan. Begitu juga dengan dana bantuan, A Lan harus menjelaskan dengan seksama keadaan keluarga tidak mampu tersebut dalam sebuah laporan. Setelah itu baru dirundingkan berapa besar dana yang harus diberikan untuk satu bulannya. Mengenai hal ini, A Lan selalu kesulitan, karena dia kurang bisa menulis dan membaca. Memimpin rapat saja dia tidak bisa membaca dengan baik, bahkan selalu mengulang-ngulang perkataan yang pernah diucapkan. Setelah lama mengerjakan Tzu Chi, kali ini A Lan baru merasa lelah, tapi dia tidak mau mengungkapkan apa-apa di depan Xiao-ling dan Guang-yuan. Dia hanya menyimpan semuanya dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: