Menggapai Harapan ep.31 – 40

Episode 31

Sejak A Song, pemilik kasino itu ditangkap polisi, A Lan hidup dengan tenang. Dia tidak perlu mencemaskan hutang-hutangnya pada A Song lagi. Tapi masalah demi masalah selalu menghampirinya. Didepan pagar rumahnya, A Lan bertemu dua pemuda asing yang mengaku dari pihak keuangan A Song. Semua hutang yang tadinya A Lan anggap sudah lunas, kini terungkit kembali. Bahkan bertambah banyak dari hutang awal, karena bunga yang terus bertambah. Hutang yang hanya ratusan ribu kini menjadi jutaan. Setelah menguping tanpa sadar pembicaraan ini, A Zhu segera melaporkan apa yang dia dengar pada Yi-ling. Karena ingin membantu ibunya, Yi-ling juga pernah mencari kantor dari pihak penagih, tapi tetap saja tidak bisa merubah apa-apa. Yi-ling bahkan diberi lihat semua dokumen pinjaman yang telah ditandatangani ibunya. Kali ini, masalah yang dihadapi A Lan, benar-benar sudah membuat susah keluarganya. Guang-yuan yang selalu bersabar terhadap perbuatan A Lan, kali ini tidak bisa membendung kekesalan dan amarahnya. Dia lebih memilih keluar dari rumah daripada harus bertatapan dengan A Lan.

Episode 32

Walau setelah ditemui Wei-yi dan Yi-ling penagih hutang tersebut menurunkan bunganya, tapi tetap saja keluarga Guang-yuan tidak sanggup membayarnya. Setelah berunding, Wei-yi memberi saran untuk menjual rumah yang mereka tinggali sekarang. Tapi adik beradik itu tidak tahu harus bagaimana menyampaikan keputusan ini pada ayahnya. Karena hutang tersebut tidak bisa ditunda lagi, maka adik beradik tersebut memutuskan menjual rumah tanpa sepengetahuan ayah mereka. Setelah rumah dijual, A Lan dan anak-anaknya pindah kerumah kontrakan yang kecil. Rumah kecil itu bahkan tidak bisa menampung barang-barang yang dipindahkan dari rumah lama. Karena mengesali perbuatannya, A Lan  hanya bisa melampiaskan semuanya pada tangisannya. Sepanjang hari dia duduk dirumah kontrakannya tanpa tahu harus berbuat apa. Merasa suasana hati sudah agak baikan, Guang-yuan memutuskan untuk pulang menjenguk keluarganya. Tapi saat masuk kerumahnya, Guang-yuan serasa tidak percaya rumah itu telah kosong. Satu-satunya orang yang terlintas dipikirannya saat itu adalah Yi-ling, putrid sulungnya. Guang-yuan bergegas pergi ke sekolahan untuk menanyakan permasalahan ini pada Yi-ling.

Episode 33

Saat tiba dirumah kontrakan mereka, Guang-yuan merasa sangat kesal, dia merasa tidak rela kehilangan rumahnya sendiri. Sedangkan A Lan sendiri menjadi sangat tertutup, dia tidak lagi membantu pekerjaan Tzu Chi walau teman-temannya datang menjemputnya. Satu-satunya orang yang bisa mengajaknya keluar adalah Nyonya Xie, itu juga karena Yi-ling yang minta tolong padanya. Sebagai seorang anak, Yi-ling merasa kecewa, karena Nyonya Xie lebih mengerti ibunya daripada dirinya sendiri. Tapi dirumah kontrakan baru itu, A Lan bisa memanfaatkan waktunya untuk menasihati tetangga yang selalu bertengkar dan memarahi anaknya. Bukan hanya memberi nasihat, A Lan juga telah menyelamatkan jiwa ibu dan anak itu. Baru saja merasa tenang, tiba-tiba pemilik rumah kontrakan itu minta A Lan untuk pindah karena putranya akan menikan dan ingin menempati rumah itu. Walau Yi-ling tidak setuju, tapi  A Lan memutuskan untuk mengalah. Saat pindah rumah, A Lan dibantu oleh teman-teman Tzu Chi dan anak-anaknya, tapi hati A Lan merasa hampa. Disaat-saat seperti ini, A Lan rindu sekali dengan Guang-yuan. Karena merasa bukan rumah sendiri, bahkan saat perayaan Imlek pun, Guang-yuan tidak ingin bersatu dengan keluarganya.

Episode 34

Berkat dukungan dari teman-temannya, A Lan kembali aktif di Tzu Chi. Karena ingin memulai hidup baru, A Lan mulai memakai pakaian yang sederhana, bahkan disamping jalan dia disangka penjual sayur. Walau disayangkan, tapi baju-bajunya yang dulu, dia sumbangkan pada orang lain. Tapi sayang sekali, saat mengumpulkan sumbangan, beberapa anggota lamanya tidak ingin menghentikan sumbangan mereka. Karena mereka sempat mendengar tentang kabar buruk A Lan. A Lan merasa menyesal sekali atas perbuatan yang pernah dia lakukan sebelumnya. Bahkan bertemu teman pria Yi-ling pun dia menjadi malu dan rendah diri, apalagi saat pertemuan pertama A Lan mengenakan baju yang begitu sederhana.  Saat mulai aktif kembali di Tzu Chi, A Lan mendengar ada sebuah kasus yang rumit, yaitu keluarga Liao bukan hanya tidak mau menyumbangkan dananya bahkan curiga kalau mereka adalah pembohong. Setelah mendengar Guru di curigai orang, A Lan bergegas minta diantar ke rumah tuan Liao tersebut. Sebelum tuan Liao keluar, A Lan tidak beranjak sedikitpun. Hingga berhari-hari kemudian, akhirnya A Lan diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Stelah mendengar penjelasan dari A Lan, dengan tanpa ragu Tuan Liao membuka selembar cek untuk disumbangkan.

Episode 35

Melihat Yi-ling begitu susah mengumpulkan uang untuk biaya sekolah Wei-yi ke luar negeri, A Lan merasa tidak tega. Kebetulan saat itu, ada seorang temannya yang ingin mencari pramuniaga toko. Awalnya pemilik toko itu merasa A Lan hanya bercanda saja, tapi tidak sangka A Lan benar-benar serius. Setelah disepakati, keesokan harinya A Lan berangkat ke toko tersebut dengan dandanan yang rapi. A Lan pikir, pekerjaan toko hanya biasa-biasa saja, tapi karena toko tersebut juga menjual secara glosiran, maka A Lan harus mengangkat-angkat barang dari dalam keluar toko. Sepulang dari toko, A Lan merasa sekujur tubuhnya pegal-pegal, ternyata menjaga toko lebih susah dari pada menjenguk keluarga tidak mampu. Berkat jerih payah Yi-ling dan adik-adiknya, akhirnya Wei-yi bisa sekolah di luar negeri dan akhirnya menikah di sana. Tidak lama setelah Wei-yi menikah, Yi-ling juga dilamar teman prianya. Karena ada pelebaran dari pemerintah, maka tanahnya yang di jalan Zhonggang berhasil dijual dengan harga yang tinggi. Dari uang tersebut, A Lan memutuskan untuk membeli rumah yang bertetanggaan dengan mertua Yi-ling. Di hari pernikahan Yi-ling, A Lan baru merasakan betapa besarnya pengorbanan Yi-ling terhadap keluarganya dalam beberapa waktu ini.

Episode 36

Saat teman-teman Tzu Chi A Lan sedang berunding siapa yang ingin menjadi ketua kelompok secara sukarela, A Lan langsung mengajukan diri. Tapi dia tidak mendapat kepercayaan dari teman-temannya bahkan guru Hong yang menjadi pembimbing mereka. Mendengar dirinya tidak ditermia dengan tangan terbuka, A Lan merasa kecewa. Selama ini dia telah mati-matian membantu pekerjaan Tzu Chi, tapi yang dia dapat malah kekecewaan. Setelah dipikir dengan matang, akhirnya A Lan ngotot bertekad ingin menjadi ketua kelompok. Tapi saat hendak bagi tugas, A Lan malah tegang, dia berharap tidak mendapat tugas apa-apa. Begitu selesai bagi tugas, kelpmpok A Lan mendapat tugas memasak. Saat kepasar membeli sayuran, A Lan kebingungan mau beli berapa banyak, untung saja penjual sayur itu mengenal Tzu Chi jadi memberinya harga murah. Disaat semua anggota kelompoknya sedang sibuk, A Lan malah mengijinkan anggota kelompoknya menolong kelompok yang lain, Li-hua di tinggal didapur memasak sendirian. Serelah acara selesai, Li-hua menasihatinya agar lebih tegas sedikit, karena jika tidak, anggota kelompoknya akan lari semua. Tapi didalam hari A Lan dia hanya ingin membantu, jadi dia tidak mempermasalahkan semua ini.

Episode 37

Saat tersesat di bukit, secara tidak sengaja A Lan dan anggota kelompoknya bertemu dengan satu keluarga yang benar-benar memprihatinkan. Dengan alasan mencari kerja di kota, suami ibu Pan tidak pernah pulang lagi. Dia meninggalkan ibu Pan dan kedua orang anaknya diatas bukit yang terpecil. Mereka tinggal dirumah yang jelek dan hidup apa adanya. Tidak ada listrik dan perabot rumah tangga.  Jika lapar, ibu Pan hanya bisa mengajak anak-anaknya memetik buah dihutan. Untuk ke bukit itu, A Lan dan anggotanya harus menempuh perjalanan yang membahayakan. Awalnya  A Lan pikir, kunjungan berikutnya para anggotanya pasti sudah tidak mau ikut. Tapi satu persatu dari mereka terpengaruh oleh welas asih A Lan dan kegigihannya. Sesulit apapun mereka bersedia mendampingi dan membantu A Lan. Sebelum mengajukan permohonan uang santunan dari yayasan, seperti biasanya A Lan mengeluarkan isi kantongnya sendiri untuk membeli keperluan untuk ibu Pan. A Lan bahkan ingin memberikan semua peralatan masaknya pada ibu Pan. Tapi A Lan mengurungkan niatnya karena menurut Yi-ling ayahnya pasti akan marah besar setelah tahu hal ini. Walau A Lan sering mengerjakan sesuatu tanpa melalui akal sehat, tapi yang dia lakukan adalah demi kebahagiaan orang lain. Oleh sebab itu juga, para anggotanya membantunya dengan senang hati dan tanpa terbebani.

Episode 38

Setelah rumahnya direnovasi dan sudah ada listrik, ibu Pan memutuskan untuk pindah rumah. Tidak tahu pindah kemana, menurut pihak kepolisian dia pindah ke Taipei. Sebelum pergi, ibu Pan juga titip pesan pada polisi yang bertugas menjaga pintu masuk bukit itu agar menyampaikan rasa terimakasihnya pada segenap insan Tzu Chi. Walau miskin, tapi ibu Pan merasa dirinya masih punya harga diri, selama masih ada sepasang tangan, dia ingin berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Dia juga bilang, kelak jika anak-anaknya sudah dewasa, dia ingin mereka juga bisa membantu orang seperti kakak-kakak Tzu Chi yang sering mengunjunginya ini. Mendengar ibu Pan begitu percaya diri, A Lan merasa sangat terharu. Setelah puluhan tahun mengajar di Penghu, akhirnya Guang-yuan dimutasi kembali ke Taipei. A Lan merasa bimbang dengan kepulangan suaminya, karena dia takut Guang-yuan melarangnya mengerjakan Tzu Chi. Tapi dia merasa sedikit lega karena Guang-yuan tinggal di asramanya. Merasa uang yang diberikannya pasti tidak akan mencukupi kebutuhan A Lan yang sudah menjadi ketua kelompok,  Guang-yuan pun menambahkan 10 ribu dolar lagi untuk biaya hidupnya. Tapi kebaikan Guang-yuan itu ada syaratnya, dia ingin dalam sebulan A Lan bisa menemaninya di asrama barunya selama 10 hari. Jika tidak datang sehari, maka uangnya akan dipotong 2 ribu dolar. Mengahadapi suaminya ini, A Lan hanya bisa menghela napas.

Episode 39

Selama puluhan tahun A Lan membujuk Nyonya Xie untuk menjadi komite, namum belum ada hasil sama sekali. Dulu Nyonya Xie berjanji padanya tunggu anaknya dewasa dan sudah berkarir dia baru akan menjadi komite, hingga sekarang Nyonya Xie sudah menggendong cucupun masih belum ingin menjadi komite. Walau Tuan Xie tidak pernah melarang A Lan mengajak istrinya mengerjakan Tzu Chi, tapi Tuan Xie tidak ingin istrinya seperti A Lan yang sudah menganggap pekerjaan Tzu Chi sebagai bagian dari hidupnya. Suatu hari saat bertemu Master, dengan keputusan sepihaknya A Lan memberitahu Master bahwa Nyonya Xie ingin dilantik sebagai komite. Setelah tahu hal ini, Nyonya Xie sangat cemas, dia tidak tahu bagaimana harus memberitahu suaminya. Dugaan Nyonya Xie benar, suaminya marah-marah bahkan tidak mengijinkannya pulang kerumah jika dia benar-benar dia jadi komite. Saat mengukur badan untuk membuat baju komite, A Lan telepon berkali-kali menyuruhnya hadir, tapi Nyonya Xie tidak berani keluar rumah. Setelah lama merenungi ceramah Master yang pernah dia dengar secara tidak sengaja. Tuan Xie mulai merasa ada kebenaran dibaliknya. Akhirnya disaat-saat terakhir, saat mengangkat telepon A Lan dia berjanji pada A Lan akan mengantar  istrinya ke sana dengan tepat waktu. Akhirnya hal yang sudah lama ditunggu A Lan terjadi juga. Dia senang sekali melihat sahabatnya ini berjalan di jalan yang sama dengannya.

Episode 40

Sejak Nyonya Xie berhasil diajak menjadi komite, A Lan semakin semangat mengerjakan Tzu Chi. Sepanjang siang dan malam, A Lan tidak pernah berhenti menanyakan kabar entah itu anggota dermanya ataupun anggota kelompoknya. Saat ingin membayar iuran telepon, Yi-ling terkejut melihat tagihannya. Tagihan yang tadinya hanya sedikit bertambah sebanyak tiga kali lipat. Setelah melihat bukti tagihan, A Lan baru sadar ternyata selama ini dia sudah banyak menelpon anggotanya. Walau terkejut melihat tagihan tersebut, tapi A Lan merasa patut melakukan semua ini. A Lan memang giat dalam mengerjakan Tzu Chi, tapi sebagai ketua kelompok, A Lan terlalu lemah dan kurang tegas. Semakin hari anggota kelompoknya semakin berkurang. Saat giliran bertugas, semakin sedikit yang datang. Kadang hanya A Lan sendiri yang mengerjakan semua tugas-tugas itu. Para anggotanya bisa dengan alasan yang ringan untuk menolak pembagian tugasnya. Tapi A Lan yang selalu lebih mementingkan masalah orang lain, tidak pernah mengeluh tentang semua ini. Walau sendirian, dia masih bisa mengerjakannya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: