Menggapai Harapan ep.11-20

Episode 11
Penyakit ibu A Lan semakin parah, saat A Lan pergi menjenguknya dia memberi A Lan seikat uang dari hasil penjualan payung yang ditabungnya. Sebelum meninggal, ibu A Lan berpesan agar A Lan harus menjaga Guang-yuan dengan baik. Dia sadar, Guang-yuan tidak begitu menyukainya karena pengetahuannya yang sempit. Tapi dia sangat mengerti kalau Guang-yuan sayang pada A Lan. Sepulang mengajak Yi-ling beli seragam sekolah, A Lan melihat seorang pengemis, karena merasa kasihan A Lan memberinya memberinya uang. Tapi kebaikan A Lan ini diprotes oleh Guang-yuan, dia merasa A Lan terlalu polos. Karena tidak mencari tahu dulu pengemis itu benar-benar miskin atau hanya berpura-pura. Saat melewati kios peramal, A Lan sempat mampir untuk menanyakan sifat suaminya. Kata peramal, Guang-yuan sangat pelit, seumur hidup A Lan jangan harap bisa mendapatkan uang darinya. Tapi peramal itu memberi dukungan pada A Lan untuk mencari uang sendiri, karena sebelum berumur 40 tahun, nasib baik masih berpihak pada A Lan. Oleh sebab itu, A Lan semakin senang main Mahjong. Karena saat main Mahjong dia selalu menang.

Episode 12
Agar A Lan bisa berhenti berjudi, Guang-yuan membuka Toko untuknya. Karena toko payung A Lan sudah lama ditutup, maka Guang-yuan meminjam pada ayah mertuanya untuk membuka Toko. Saat peresmian Toko, banyak sekali tamu yang hadir, termasuk teman-teman berjudinya. Meminjam kesempatan ini, Guang-yuan langsung menyatakan kepada teman-teman berjudi A Lan, bahwa jangan mengajak A Lan berjudi lagi, karena banyak yang harus dikerjakannya. Tapi A Lan tidak bisa terlepas dari teman-temannya itu, mereka tetap saja memaksa A Lan untuk bermain bersama mereka. Suatu hari, dia diajak pergi main Mahjong ke tempat lain oleh salah seorang temannya, awalnya A Lan menolaknya, tapi temannya itu memakai alasan bahwa ada yang ingin membeli rumah. Setelah pergi satu-dua kali, A Lan kembali ketagihan dan sering berkunjung kesana. Sampai-sampai, Tokonya ditinggal pada pembantunya. Kelakuan A Lan semakin membuat suaminya jengkel.

Episode 13
Karena bisnis Toko A Lan semakin sepi, maka A Lan minta agar Guang-yuan menutupnya. Awalnya Guang-yuan tidak setuju dan merasa A Lan kurang berusaha saja. Tapi setelah dinasihati Bibinya, akhirnya Guang-yuan sadar bahwa Toko itu memang sepi. Akhirnya Guang-yuan menutup Toko itu tanpa berunding dengan A Lan terlebih dahulu, selain itu Guang-yuan juga menyalahkan A Lan atas semua kerugian yang dialaminya. Karena tidak ingin dipandang rendah oleh Guang-yuan, A Lan gigih menjual rumah, bahkan dihari hujanpun dia masih menemani pelanggan melihat rumah. Suatu hari, paman Guang-yuan menawarkan Guang-yuan sebuah kesempatan yang bagus, hanya dengan 20 ribu dolar, Guang-yuan sudah bisa menjadi kepala sekolah. Karena tidak mau menggunakan uang pamanya, maka Guang-yuan menolaknya. Setelah berita ini sampai di telinga A Lan, A Lan ingin sekali membantunya. Dengan susah payah A Lan mengumpulkan 20 ribu dolar. Tapi Guang-yuan malah marah-marah dengan A Lan, dia pikir uang yang diberikan A Lan adalah hasil dari berjudi.

Episode 14
Akhirnya impian Guang-yuan menjadi Kepala sekolah tercapai juga, melalui hasil ujian, Guang-yuan berhasil menjabat sebagai Kepala sekolah SMP. Karena dapat fasilitas rumah dari pemerintah, Guang-yuan dan A Lan pindah kerumah baru. Tadinya A La ingin mengajak Ayahnya tinggal bersama, tapi Ayahnya menolak. Dirumah baru, A Lan tidak diizinkan berjudi. Karena dikekang terus, A Lan semakin ingin berjudi. Dalam mengajar anak-anaknya, Guang-yuan selalu diktaktor. Bermain gundu dan membaca komik pun anak-anaknya dihukum berlutut. Suatu hari, saat main Mahjong di rumah nyonya Shen, A Lan dan rekannya ditangkap polisi. Kebetulan sekali, polisi yang menangkap A Lan adalah mantan murid suaminya. Kali ini, Guang-yuan tidak menggunakan kekerasan, dia menghukum A Lan dengan menghafal buku. Jika tidak bisa menghafal, A Lan tidak dibiarkan keluar rumah. Saat sedang menjalani hukuman, tiba-tiba nyonya Shen datang minta tolong pada A Lan untuk bertemu dengan orang yang mau membeli rumahnya. Karena dipaksa terus, maka A Lan ikut denganya. Setiba didepan pintu rumah, kebetulan sekali Guang-yuan juga baru pulang. Begitu masuk, Guang-yuan dan A Lan bertengkar hebat.

Episode 15
Sebelum berangkat ke Taipei, Guang-yuan berpesan pada anak-anaknya agar belajar dengan giat. Tapi satu jam setelah keberangkatannya, A Lan langsung mengajak anak-anaknya keluar jalan-jalan dan membeli komik. Keesokan harinya, nyonya Shen dan teman-temannya langsung berkunjung kerumah A Lan dan mengajaknya main Mahjong. Di hari perayaan Imlek, Guang-yuan membagikan angpao untuk ke empat anaknya, tapi isinya bukan uang melainkan secarik kertas yang berisi masa depan anak-anaknya. Anak sulung menjadi Pengacara, ke-dua jadi Insinyur, ke-tiga jadi Akuntan dan ke-empat jadi Dokter. Guang-yuan ingin ke-empat jabatan penting ini ada di keluarganya. Saat sedang asyik bermain Mahjong, tiba-tiba A Lan dikejutkan oleh seorang temannya, katanya rumah A Lan kebakaran. Begitu pulang ternyata bukan rumahnya, tapi rumah orangtuanya. Ayah A Lan terpaksa harus berbaring dirumah sakit karena ini. A Lan baru saja berunding dengan Guang-yuan untuk membangun kembali rumah ayahnya, tapi belum sempat ter-realisasi, Ayah A Lan sudah meninggal. Karena tidak bisa menerima kepergian ayahnya, A Lan jadi tidak bersemangat dan selalu sedih.

Episode 16
Setelah sakitnya sembuh dan suasana hatinya membaik, A Lan diajak nyonya Shen main Mahjong lagi. Kali ini, Guang-yuan tidak ingin bersabar lagi, dia mengaitkan kunci gerbang sehingga A Lan tidak bisa masuk rumah. Karena kesal, A Lan pergi menginap dirumah nyonya Shen. Keesokan harinya, A Lan tidak mau mempedulikan Guang-yuan, bahkan makan bersamapun A Lan tidak rela. Kelakuannya membuat Guang-yuan semakin kesal. Di malam hari, A Lan pulang dengan penampila yang berbeda, dia mengenakan kacamata hitam. Karena merasa penasaran, maka Guang-yuan memaksanya untuk melepaskan kacamata hitamnya itu. Ketika dibuka, Guang-yuan terkejut melihat mata A Lan yang bengkak. Setelah ditanya, ternyata A Lan mengoperasi lipatan mata, supaya terlihat cantik. Sebenarnya A Lan melakukan semua ini demi nama baik Guang-yuan, jika ada yang memuji kecantikannya, ini juga akan membuat Guang-yuan bangga. Tapi Guang-yuan tidak mau tahu semua itu, dia merasa malu dan minta agar didepan orang-orang sebaiknya A Lan jangan mengaku istrinya.

Episode 17
Karena kesal pada suaminya, pagi-pagi A Lan sudah pergi kerumah nyonya Shen untuk mengajaknya main Mahjong. Kali ini bukan main dirumahnya sendiri, tapi nyonya Shen mengajaknya main ke Taipei. Sejak itu, A Lan sering pergi dan menginap beberapa hari di Taipei, keadaan seperti ini terus berlanjut selama enam tahun, sampai anak-anaknya dewasa. Sesuai dengan keinginan ayahnya, Yi-ling ikut ujian masuk jurusan hukum, tapi sedikitnya dia membuat Guang-yuan kecewa karena Yi-ling tidak berhasil masuk Universitas Taiwan. Karena tidak melepas putrinya sendirian di Taipei, A Lan menelepon teman-temannya yang ada di Taipei agar menjaga Yi-ling. Tapi kebaikan A Lan malah mendapat caci maki dari Guang-yuan, dia takut teman judinya akan merusak Yi-ling. Melihat ayah dan ibunya yang tidak pernah berhenti bertengkar, Yi-ling merasa berat meninggalkan rumah, dia takut kelak tidak ada dia ayah dan ibunya akan bertengkar lebih hebat lagi. Dengan berat dia pergi ke Taipei, tapi perasaannya membaik ketika melihat ibunya pergi mengantarnya.

Episode 18
Dirumah, A Lan sama sekali tidak ada hak untuk berbicara, Guang-yuan hanya mendengarkan kata-kata Yi-ling saja. Oleh sebab itu masalah nyonya Chen yang ingin putrinya mengajar di sekolah Guang-yuan bisa berjalan dengan lancar. A Lan baru saja ingin menyanjung putrinya dengan mengatakan ada Yi-ling dirumah semuanya beres, tapi kata-katanya ini di sela oleh Guang-yuan, dia malah mengatakan alangkah baiknya jika ibu tidak dirumah. Perkataan ini membuat A Lan kehilangan muka di depan anak-anaknya. Saat mengajak pelanggan melihat rumah, A Lan disadarkan oleh sepasang suami istri, bahwa anak-anak tidak akan selalu bersamanya. Kalau sudah dewasa mereka punya pekerjaan dan urusan sendiri. Kalau hal ini terjadi, A Lan tidak tahu kelak bagaimana dia melewati hari-hari berdua dengan Guang-yuan. Karena suntuk, A Lan pergi kerumah nyonya shen untuk mengajaknya maih Mahjong, tapi kebetulan sekali, nyonya Shen ingin ke Bar, diapun mengajak A Lan ikut bersamanya. Sepulang dari Bar, Li-hua melihat A Lan. Keesokan harinya, Li-hua pergi kerumah A Lan untuk menasihatinya. A Lan menjadi serba salah, di samping harus menjaga nama baik Guang-yuan, dia juga harus ikut mereka bersenang-senang karena urusan bisnisnya.

Episode 19
Melihat A Lan mengisi waktu luangnya dengan berjudi dan berteman dengan nyonya-nyonya tersebut, Li-hua menyarankan agar A Lan ikut berbuat kebajikan dengannya. Karena merasa tidak enak, maka A Lan pun berjanji akan ikut dengannya. Diperjalanan pulang, A Lan bertemu A Zhu. A Zhu menceritakan bahwa putri keduanya dimarahi oleh Guang-yuan karena minta beli baju renang yang baru. Tanpa berpikir panjang, A Lan bergegas pergi beli baju renang dan mengantarnya kesekolah. Tapi A Zhu melihat A Lan pulang dengan kecewa, putrinya menolak baju renang itu. Dimata anak-anaknya, A Lan hanyalah seorang ibu yang tidak pernah mengurus rumah. Malam sebelum pergi berbuat kebajikan, A Lan tidak dikasih pulang oleh teman-temannya, dia dipaksa berjudi dengan mereka sampai pagi. Tapi A Lan tidak mengingkar janjinya pada Li-hua karena hal ini. Walau dalam keadaan ngantuk dia tetap memenuhi janjinya. Setiba di depan kuil, A Lan melihat seorang gadis kecil yang datang mengambil sembaki, karena kasihan, A Lan memberinya uang. Tapi gadis kecil itu menolaknya. Karena tersentuh, tidurpun A Lan mengigau tentang gadis kecil itu. Tapi Guang-yuan yang selalu curiga padanya, merasa A Lan sudah keterlaluan, karena tidur pun ia mengigau tentang judi.

Episode 20
Sudah bertahun-tahun A Lan tidak menghirup udara pagi yang segar. Sejak kemarin bertemu anak gadis malang itu, suasana hati A Lan jadi berubah. Pagi-pagi dia bangun mencari baju bekas anaknya setelah itu dia pergi membeli sarapan pagi dan makan bersama anak-anaknya. Dia merasa anak-anaknya sangat beruntung karena tidak kekurangan apapun. Saat sarapan, Guang-yuan mengumumkan ingin membeli rumah sendiri, karena rumah yang mereka tinggali sekarang entah kapan akan diambil kembali oleh pihak sekolah. Guang-yuan dan anak-anaknya tertarik pada rumah yang mereka kunjungi, tapi karena tabungannya tidak mencukupi, Guang-yuan tidak ingin membelinya. Melihat anak-anaknya begitu suka dengan rumah itu, A Lan berjanji akan mendapatkan uang tersebut. Waktu mengunjungi keluarga gadis kecil itu, A Lan serasa tidak percaya masih ada keluarga yang sesulit ini. Dia merasa sangat prihatin dengan gadis kecil itu. Hati A Lan pun tergerak, dia berjanji akan mencari teman-temannya untuk bantu memberi sumbangan pada keluarga-keluarga miskin seperti itu.

Iklan

One Response to Menggapai Harapan ep.11-20

  1. mei li sha berkata:

    aku suka banget sama film drama yg ada di daai tv…kali ini dramanya lucu dan tersirat banyak makna…penasaran dengan akhir crita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: