220108 – Menghindari Hidup Boros, Memupuk Karma Baik

Master bercerita tentang seorang relawan tua yang bernama Yue Xia. Beliau sangat menarik hati dan hidupnya pun sederhana serta disukai banyak orang. Saat akan pensiun, beliau diminta untuk mengadakan suatu pesta perpisahan. Beliau mengiyakan hanya dengan persyaratan diadakan pesta kecil yang bermanfaat dengan makanan bergizi dan tontonan tentang pelestarian lingkungan daripada pesta besar yang memboroskan. Walaupun dengan hidup yang sederhana, Nenek Yue Xia ini sudah menyumbangkan lima kali status relawan kehormatan (masing-masing 1 juta $NT atau sekitar tiga ratus juta rupiah). Selama hidup, waktu harus dimanfaatkan dengan baik. Jika digunakan dengan baik, walaupun usia makin bertambah, kebijaksanaan makin bertambah. Jika tidak, kehidupan akan dilewati dengan sia-sia dan tanpa makna. Bahkan, jika sampai disalahgunakan, bisa tersesat di jalan yang salah.

Bagaikan seekor induk ayam yang menjaga anak ayamnya. Mulai dari menjaga telur-telurnya, berharap telur itu segera menetas setiap butirnya. Menjaga telur-telurnya dengan membentangkan sayapnya untuk melindungi mereka. Begitulah seorang insan Tzu Chi, saat menginspirasikan orang lain, harus memiliki pemikiran seperti ini. Ada yang bertanya kenapa mengumpulkan donasi satu orang saja harus menghabiskan waktu satu jam. Bukankan hanya perlu datang, memberikan tanda terima, dan mengambil uang donasi kemudian selesai. Bukan itu tujuan sebenarnya dari donasi. Tujuan sebenarnya adalah untuk memberikan pendekatan secara spiritual, memberikan perhatian. Seperti yang sering diutarakan oleh Master, “Harus memiliki dharma”.

Master kembali mengingatkan kita tentang kondisi lingkungan kita ini. Begitu banyak bencana yang terjadi, dan tidak bedanya dengan kondisi batin masyarakat kita sekarang ini. Kondisi masyarakat kita yang banyak terpengaruh oleh keserakahan dan nafsu keinginan. Oleh karena itu, terhadap bencana besar yang melanda, kita harus memiliki kewaspadaan yang tinggi. Semua ini sangat besar hubungannya dengan mengekang diri, tekun dan hidup sederhana. Karena keserakahan dan pemborosan, setiap orang menyukai gaya hidup berfoya-foya. Banyak barang-barang yang belum usang ataupun rusak sudah dibuang. Begitu besarnya permintaan ini, meningkat pula tingkat produksi untuk memenuhi semua permintaan tersebut yang akhirnya menyebabkan ketidakselaran alam dan lingkungan. Semua ini dikarenakan kurangnya usaha mengekang diri, pengendalian nafsu keinginan. Oleh karena itu, kita harus mulai belajar untuk mengekang diri, tekun, hemat dan tahan penderitaan.

Part I

Part II

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: