Synopsis Ep.57-66(End)

daai-drama-scr.jpg

Episode 57 , 15 Desember 2007 08.00PM
Saat bangun untuk ke kamar kecil, A Chua mendengar A Rui memanggil namanya, begitu A Chua masuk ke kamar, A Rui sudah tergeletak dilantai karena mabuk. Karena kasihan, A Chua membersihkan badan A Rui dan mengganti bajunya. Keesokan harinya, A Rui merasa tersentuh dan merasa bersalah terhadap A Chua. Sejak kejadian itu, setiap kali habis minum-minum, A Rui selalu membersihkan sisa minumannya. Selain menjadi relawan dirumah sakit, A Chua juga rutin mengunjungi ibu Guo Liang. Tapi kehadiran relawan Tzu Chi membuat putranya tidak senang, dia merasa A Chua dan teman-temannya terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang. Setelah diselidiki ternyata Guo Liang benci dengan ibunya karena kematian istri dan anak yang masih berada didalam kandungan. Saat masih muda, ibu Guo Liang sangat galak pada menantunya, karena tidak tahan siksaan ini maka istri Guo Liang bunuh diri disungai. Sejak itu, Guo Liang benci pada ibunya.

Episode 58 , 16 Desember 2007 08.00PM
Melihat kakak-kakak Tzu Chi memasak, memandikan, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah ibunya, Guo Liang mulai merasa tersentuh dengan kehangatan yang mereka berikan. Atas inisiatifnya sendiri, dia memasak untuk ibunya. Karena sering pulang malam, A Chua kembali diprotes oleh Zhi Long, tapi setelah A Chua menceritakan tentang dharma yang dia dengar dari guru serta suasana hatinya setelah masuk Tzu Chi, Zhi Long mulai merasakan perubahan pada diri A Chua. Zhi Long jadi mengerti mengapa ibunya bisa mengerjakan Tzu Chi dengan senang. Sekali lagi A Chua lolos dari maut, diperjalanan pulang dari rumah ibu Guo Liang, A Chua ditabrak motor lagi. A Chua tidak mengalami luka berat, hanya kakinya saja yang sedikit tergores, A Chua percaya semua ini adalah berkat dari sang Buddha, karena sang Buddha tahu besok harinya A Chua akan berangkat ke Hua Lian untuk menjadi relawan.

Episode 59 , 17 Desember 2007 08.00PM
Begitu kembali dari Hua Lien, A Chua mendapat kabar bahwa ibu Guo Liang telah meninggal dunia. Guo Liang yang kini sebatang kara, akhirnya rela berlutut di depan nisan ibunya dan memaafkan kesalahan yang pernah ibunya lakukan. Dalam beberapa waktu ini, A Chua selalu aktif menjadi relawan, di rumah sakit dia telah melihat kenyataan dari lahir, tua, sakit dan mati. Begitu tahu A Yuan menderita kanker hati, A Chua juga merasa sedih. waktu pertama kali ke griya perenungan, A Chua mendengar guru mengatakan tentang tidak ada perbedaan, saat itu hati A Chua merasa ini sangat sulit, tapi secara perlahan dia berhasil melakukannya. Terhadap orang yang tidak ada tali persaudaraan saja, A Chua bisa berkorban, apalagi terhadap ayah dari anaknya. Makanya A Chua memutuskan untuk membantu biaya pengobatan A Yuan serta memberinya semangat hidup dan dukungan yang besar.

Episode 60 ,18 Desember 2007 08.00PM
Karena tidak mau membebani putranya, A Chua memutuskan untuk menanggung sendiri biaya pengobatan A Yuan. Karena kondisi A Yuan yang semakin hari semakin parah, selain mengumpulkan biaya pengobatan, A Chua juga sudah mempersiapkan pemakaman A Yuan. karena itu, A Chua yang sudah lama tidak berdagang kembali kedunia usahanya.
Setelah tahu A Yuan sakit, Zhi Long dan Wen Xiong mulai memperhatikan dan menjenguk ayahnya, mereka bahkan memberi obat-obatan untuk A Yuan. Sejak tahu dirinya menderita kanker hati, kelakuan A Yuan pada A Chua menjadi baik, dia merasa telah banyak menyusahkan dan bersalah A Chua dan merasa dia bukan seorang ayah yang baik. Oleh sebab itu, dia merasa tidak layak makan obat-obatan yang diberikan oleh kedua putranya.

Episode 61 , 19 Desember 2007 08.00PM
Hidup sampai setuai ini, orang yang paling dicemaskan A Yuan adalah A Rui. Sejak muda, A Rui sudah jadi istri keduanya, mengikutinya hidup susah, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, dan sangat bersabar padanya. A Yuan merasa sangat bersalah padanya. Sebelum meninggal, A Yuan mengucapkan terimakasih pada A Chua untuk yang pertama kalinya serta memintanya untuk menjaga A Rui. Setelah A Yuan meninggal, A Rui merasa sebatang kara dan sering memabukkan diri. Sedangkan Zhi Long dan Wen Xiong sudah memaafkan kesalahan ayahnya. A Chua merasa sangat bersyukur karena sejak A Yuan sakit hingga meninggal dia tidak pernah menyusahkan putranya sedikitpun, semua biaya pengobatan bisa ditutupi dengan hasil dagangannya. A Chua merasa tanggungjawabnya pada A Yuan sudah habis, sekarang hanya tinggal A Rui.

Episode 62 , 20 Desember 2007 08.00PM
Semakin hari A Rui semakin melemah, dia tidak mau makan, yang dipikirkannya hanya A Yuan seorang. Sejak A Yuan meninggal, A Rui merasa hidupnya sangat hampa dan tidak berarti lagi. A Chua yang ada disampingnya selalu memberi perhatian ,merawat serta memberinya semangat hidup. Walau sudah berusaha, tapi A Chua tidak mampu menghalangi A Rui untuk menyusul A Yuan. karena merasa A Rui hanya sebatang kara, maka A Chua memutuskan untuk menyemayamkannya disamping A Yuan. setelah menghantar kepergian A Yuan dan A Rui, A Chua yang berusia 68 tahun semakin hari semakin sibuk, dia selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat kebajikan. Tapi kehidupan manusia selalu ada kejadian yang tidak terduga, kesehatan A Chua tidak seperti dulu lagi.

Episode 63 , 21 Desember 2007 08.00PM
Walau Mei Shui berbakti pada A Chua, tapi kadang juga ada keluhan. Cobaan dalam keluarga A Chua datang lagi, Mei Shui menderita kanker payudara dan sudah stadium ke dua. Dokter menyarankan harus segera operasi dan menjalani kemoterapi. Saat dirawat dirumah sakit, Mei Shui merasakan kebaikan ibu mertuanya yang tulus. Sepanjang malam Mei Shui mengingat kebaikan A Chua terhadapnya. Mengingat kelakuan buruk yang pernah dia lakukan pada ibu mertuanya, Mei Shui merasa sedih, malu dan menyesal. Karena sejak dia menikah dengan Zhi Long, ibu mertuanya sudah menganggapnya bagiakan putri sendiri. Supaya bisa istirahat dengan baik, A Chua menyarankan Mei Shui untuk beristirahat di kuil, dan memberi dorongan pada Mei Sui jika sudah sembuh nanti harus giat mengerjakan Tzu Chi.
Episode 64 , 22 Desember 2007 08.00PM
Saat berkunjung ke kantor penghubung Tzu Chi yang ada diThailand, A Chua ikut kunjungan dan bakti sosial. Saat mengunjungi seorang nenek tua yang sudah lama tidak berdiri, A Chua memberinya dukungan yang sangat besar sehingga nenek tua tersebut bisa berdiri kembali dan merasakan bagaimana rasa melangkah. Melihat masih banyak warga yang hidup susah, hati A Chua merasa pedih dan sedih. Dia berjanji akan membantu guru berbuat kebajikan sampai akhir hidupnya. Setelah sembuh dari penyakitnya, Mei Shui aktif mengerjakan Tzu Chi, dia juga membantu ibu mertuanya mengambil uang sumbangan. Saat kembali dari Thailand, A Chua kedatangan tamu yang sudah 50 tahun tidak bertemu, tamu tersebut adalah tuan Gao yang pernah jatuh cinta dengannya.

Episode 65,23 Desember 2007 08.00PM
Setelah telpon berkali-kali, akhirnya tuan Gao Xian Liang bisa menemukan A Chua. Selama 50 tahun ini, A Chua selalu ada di hati Gao Xian Liang. Begitu mendengar suara Gao Xian Liang, sepanjang malam A Chua tidak bisa tidur dan merenungi masa lalunya bersama Gao Xian Liang. A Chua tahu kedatangan Gao Xian Liang adalah ingin mengajaknya hidup bersama, tapi A Chua menolaknya dan memintanya agar melupakan masa lalu. A Chua membuat keputusan ini karena ingin melepaskan masalah duniawi, kini didalam hati A Chua sudah tidak ada beban dan penyesalan sama sekali. Setelah Mei Shui sembuh, A Chua mengajaknya mengumpulkan sumbangan, sepasang menantu dan ibu mertua itu berkeliling dari satu jalan ke jalan lain membantu guru mencari sumbangan.

Episode 66 , 24 Desember 2007 08.00PM
Tahun 2000, rumah sakit Tzu Chi di Dalin mulai beroperasi, karena kondisi lututnya, karma lebih dekat dari rumah, A Chua pindah jadi relawan di rumah sakit yang ada di Dalin. Beberapa waktu setelah kembali ke Amerika, Gao Xian Liang mengirimi A Chua sebuah cek atas nama Tzu Chi, melihat sumbangan ini, A Chua percaya Gao Xian Liang sudah bisa melepaskan cinta lamanya dan mulai menyebarkan cinta kecil menjadi cinta besar dengan berbuat amal. Kini setiap pagi, A Chua membuka matanya dengan rasa syukur yang tak terhingga, dengan senang dia menyambut datangnya hari yang baru. Walau A Chua yang berusia 82 tahun ini masih tinggal sendiri, tapi perasaannya begitu leluasa dan senang. Saat ini A Chua benar-benar merasakan, tanpa rasa takut hati menjadi tentram, hati tentram maka perasaan akan menjadi baik. A Chua yang masih muda, telah banyak merasakan penderitaan, dikehidupan mendatang dia tidak ingin reinkarnasi lagi, dia juga sempat berpikir untuk menjadi biksuni. Tapi A Chua yang sekarang sudah merasakan kebahagiaan dari kitab sang Buddha. Dilubuk hatinya, dia merasa puas. Kebijaksanaan yang bersinar dari dalam dirinya, seperti sinar rembulan, dengan tanpa ego menyinari dunia fana ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: